Tokoh
1. Amuleta Wibisono
2. Bima Adinugroho
3. Widya Wicaksono (sepupu Amuleta)
4. Gayatri Adinugroho (bunda Bima)
5. Ina Karlina (Kepala Divisi Editor)
6. Hendriko Simanjuntak (Teman Amuleta)
Sudah empat hari ini rumah terasa sepi sekali, bapak dan ibu masih ada di Malang mengunjungi tante Yul, adik bapak, yang sakit. Dua hari yang lalu bapak mengabarkan kalau mereka akan tinggal lebih lama lagi disana karena penyakit tante Yul semakin parah. Yah … nasib kalau jadi anak tunggal.
Hari Minggu ini untuk mengusir sepi, saya membersihkan rumah supaya lusa ketika bapak dan ibu pulang rumah mungil ini siap menyambut mereka berdua. Tidak terasa hari sudah menjelang siang dan perut ku sudah mulai protes. Aku bergegas mandi lalu membeli makan siang di depan gang tempat tinggalku. Setelah kenyang kantuk pun menyerang dan tak terasa aku terlelap cukup lama, terbangun karena dering hand-phone ku tepat di dekat kuping. “Siapa sih …”gerutuku.
“Halo…, sapa neh?” tanyaku dengan enggan.
“Eta, ini aku Widya … Ta… kamu bangun dulu dong …” pinta Widya sepupuku yang tinggal di Malang.
“Udah … aku udah bangun …ada apa sih Wid?” “Ngomong aja … pake basa basi segala.”
“Eta …” terdengar isakan dari ujung telephone genggamku yang membuatku terduduk.
“Wid… kenapa?” “Tante…Yul?” tanya ku setengah panik
“Eta … Pak De Wibi …bapakmu…kecelakaan.” tangis Widya pun pecah dan aku terdiam kaku, lututku bersimpuh di lantai, tak sanggup menopang tubuhku yang lemas.
“Eta … Ta…” Suara Widya semakin menjauh dan tubuhku terasa sangat ringan … ringan sekali
Aku sudah berada di bandara sejak jam lima subuh berusaha mengejar penerbangan pertama yang akan membawaku ke Malang. Setelah menerima berita yang mengejutkan kemarin sore, butuh waktu beberapa saat untuk menyadari bahwa separuh hati dan jiwa ku terenggut oleh kehilangan ini. Pesawat ku mendarat di bandara Abdul Rachman Saleh. Dengan menumpang taxi aku menuju rumah Widya sepupu ku dengan perasaan campur aduk. Taxi yang membawaku dari bandara berhenti di depan rumah Widya, untuk sesaat aku tertegun melihat begitu banyak orang berkumpul dan seketika itu juga lututku terasa lemas. Widya berlari ke arahku, memelukku dengan erat.
“Eta, … yang tabah ya … kamu harus kuat.” bisik sepupuku. Tubuhku terasa ringan sekali …Tuhan…berikan hambamu ini kekuatan,” bisikku dalam hati. Widya membimbingku masuk ke dalam rumah dimana terbaring dua jasad orang yang paling aku cintai. Aku bersimpuh dan memanjatkan doa agar arwah mereka mendapat tempat disisi yang Maha Kuasa.
Sepanjang prosesi pemakaman, wanita yang terlihat ringkih itu berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan memberikan senyum pada setiap kerabat yang mengucapkan belasungkawa padanya. Tuhan, betapa aku sangat berdosa, memandang kedua mata bening itu yang kian mengelam karena kehilangan cahaya hidupnya. Aku merasa jadi orang yang paling bejat di dunia ini. Mataku tak lepas menatap wanita itu walau hati nya sakit setiap kali ia menarik nafas seolah ingin melepaskan beban dalam dadanya. Bagaimana aku bisa memohon ampun pada hati yang tengah terluka? Mungkinkah dia bisa memaafkan ku?
Tiba-tiba mata kelam itu menyadari bahwa dirinya tengah ku perhatikan, perlahan aku menyelinap diantara pelayat dan meninggalkan tempat itu dengan sebuah tekad.
Amuleta, menangkap sepasang mata yang memperhatikannya dengan pandangan begitu tajam. Siapa orang itu? Saat kami saling bertatapan laki-laki itu melangkah mundur menghilang di antara para pelayat. Satu persatu para pelayat meninggalkan gundukan tanah merah yang bertabur bunga. Aku masih bersimpuh disamping pusara kedua orang tua ku, rasanya berat sekali kaki ini untuk melangkah meninggalkan mereka di sini. “Ya Tuhan …bisik ku dalam hati”. “Bantu hamba untuk merelakan kepergian mereka …aku tidak mau jadi manusia yang mengingkari takdirmu Tuhan”. “Kita pulang yuk Ta?” ajak Widya sambil membantuku bangkit. Dengan gontai ku ikuti kemana Widya menuntunku, otakku sudah beku dan tubuhku lemah tak bertenaga.
Malam harinya kami mengadakan tahlilan, mengundang tetangga sekitar. Walau tubuh ini masih terasa lemah aku paksakan untuk hadir saat tahlilan. Susah rasanya untuk tidak menitikkan air mata saat aku mendengar kumandang bait-bait doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang belum tentu mengenal ayah dan ibuku. Saat tahlilan hampir usai ada salam terucap di ambang pintu dan semua mata menatap si empunya suara. Aku sedikit terkejut … bukankah laki-laki itu yang ku lihat di pemakaman tadi? Siapa dia sebenarnya? dan siapa pula wanita baya yang berada disampingnya itu?
“Assalamuallaikum...” “Maaf …saya bisa bertemu dengan Amuleta?” tanya pria itu sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Dengan kekuatan yang tersisa aku bediri menghampiri pria itu. “Saya Amuleta, anda siapa?” tanyaku. Pria itu tidak langsung menjawab, dia hanya memandangiku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan. “Nama saya Bima … dan ini ibu saya Gayatri…” dengan suara terpatah-patah Bima memperkenalkan diri pada Amuleta. “Saya … saya … datang …untuk … meminta maaf.” masih dengan terbata-bata Bima berusaha menjelaskan maksud kedatangannya. “Minta maaf…?” “Pada saya…?” Untuk apa…?” tanyaku bingung. Bima menarik nafas panjang. Amuleta menatap Bima dengan hati yang berdebar. “Saya … bertanggung jawab terhadap kecelakaan yang menimpa kedua orang tua mu.” Bima bersimpuh dihadapan Amuleta. Amuleta hanya berdiri mematung, dia masih belum bisa percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Bima. “Sungguh saya tidak menginginkan hal ini terjadi …ini sebuah kecelakaan … rem mobil saya tiba-tiba saja blong ditikungan itu dan hal itu terjadi…saya sungguh-sungguh …”
“Keluar!” kata Amuleta tiba-tiba. Bima kaget mendengar suara itu. “KELUAR … AKU TAK SUDI MELIHAT MU DI SINI!! kata Amuleta setengah berteriak. Ibu Gayatri seolah hendak berkata sesuatu namun Bima mencegahnya. Bima dan Ibu Gayatri pun berlalu pergi. Pertahanan Amuleta seketika itu juga ambruk dan tubuhnya yang mungil itu pun terkulai ke lantai. Di kegelapan malam itu ada sepasang mata yang menyaksikan pemandangan itu dengan penuh kepedihan.
Bima meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur saat dia melihat wajah Amuleta penuh dengan amarah dan tubuh mungil itu terkulai tak berdaya dalam kesedihan yang ditanggungnya. Rasa berdosa semakin bersarang dalam dirimu. Kejadian itu membuatnya selalu terbangun dengan mimpi buruk. Hari itu dia baru saja datang dari Jakarta untuk berkunjung ke rumah sepupunya yang berada di Batu, Malang. Entah kenapa mobil itu tiba-tiba saja kehilangan kendali dan rem nya tiba-tiba saja blong. Seketika Bima membanting stir ke kanan namun tak dinyana dari arah yang berlawanan ada sebuah sedan dan kecelakaan itu terjadi. Bima tidak mengalami cedera yang serius tapi suami istri penumpang di sedan itu terluka parah dan mengembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit. Saat Bima menghadiri pemakaman suami istri itu, matanya tertuju pada sosok mungil yang tak henti-hentinya menitikkan airmata. Wanita itu terlihat rapuh sekali, belakangan dia tahu kalau wanita itu bernama Amuleta, anak dari mendiang suami istri itu. Dengan keberanian yang dia punya, Bima ditemani oleh ibundanya mendatangi rumah mendiang untuk meminta maaf pada putri tunggalnya itu. Namun luka itu masih terlalu dalam bagi Amuleta untuk dapat memaafkan dirinya. Bima berjanji dalam hatinya bahwa dia akan bertanggung jawab terhadap Amuleta dengan cara apapun.
Jakarta, kota ini terasa tidak sama lagi. Aku kembali ke kota ini setelah setelah tujuh hari sejak meninggalnya kedua orang tuaku. Saat membuka rumah ini, terasa ada yang hilang. Sepi sekali rumah ini …sesak menyergap dada nya … dan tetesan air mata bergulir membasahi pipinya. Tuhan … mengapa kau pisahkan aku dengan kedua orang tuaku secepat ini. Amuleta hanya bisa bersimpuh dan menangis……
Hari-hari terasa berat di lalui Amuleta dalam kesendiriannya.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Amuleta mulai melamar pekerjaan. Walaupun ia menerima warisan dan santunan kematian atas kedua orang tuanya namun jika tak ada pemasukan, uang itupun akan abis nantinya. Berpuluh-puluh surat lamaran dikirimnya tapi belum ada satupun panggilan yang datang.
Setelah hampir dua bulan berjuang mencari pekerjaan akhirnya ada sebuah panggilan wawancara datang lewat telephone hari ini. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang majalah remaja mencari seorang asisten editor. Interview berjalan dengan mulus dan aku pun mulai bekerja minggu berikutnya. Awalnya terasa berat menjalani pekerjaan ini namun lama kelaman menjadi terbiasa dan berangsur-angsur pula kesedihanku terurai. Kantor ku terletak di jantung perkantoran di ibukota, menempati tiga lantai sebuah gedung perkantoran berlantai 30. Bis adalah kendaran setia yang selalu mengantarkanku pulang dan pergi ke kantor. Dan tak terasa satu setengah tahun telah ku lalui, tengelam dalam kesibukan mengedit naskah-naskah, menjalin pertemanan baru menjadikan hidup ku sedikit lebih berwarna dari sekedar abu-abu.
Hari akan menjadi sebuah neraka buat ku, weker mati jadi telat bangun, niatnya mau naik taksi supaya bisa cepat sampai kantor …eh … taksinya susah banget lagi, terpaksa naik bis dan masih ada kesialan ku lagi … bis yang ku tumpangi pake acara mogok jadi penumpang di pindahkan ke bis yang lain dan itu penuh sesak dengan campuran berbagai macam bau. Sepertinya hari ini semua bersekutu untuk menjebloskan ku dalam neraka dunia. Sesampainya di kantor aku diberitahu bahwa akan ada meeting 15 menit lagi. Ya Tuhan … keringat belum kering, perut keroncongan dan aku harus ikut meeting ...phuihhhh. “Ko…emang ada meeting apa sih?” tanya ku pada Koko. Koko adalah teman satu divisi dengan ku. “Seharusnya kan enggak ada jadwal meeting apa-apa hari ini.” Kataku masih dengan nafas yang terengah-engah. “Enggak tahu tuh … aku baru dikasih tahu sama mbak Ina (kepala editor) tadi pagi, katanya sih meeting besar dengan big bos.” jelas Koko kepada ku. Hmmm…big bos? Baru terpikir oleh ku bahwa ternyata aku tidak penah tahu nama maupun tampang dari si empunya Majalah ini. “ Kok..kamu udah pernah liat tampangnya big bos belum?” tanyaku kembali pada Koko. “Ya udahlah … hampir empat tahun aku kerja di sini, baru dua kali aku liat beliau, itupun di dalam rapat besar.” jelas Koko. “Anak-anak … ayo segera kumpul di hall, meeting sudah akan dimulai!” teriak mbak Ina lewat intercom. Semua bergegas menuju meeting hall yang berada dua lantai diatas ruang divisi kami. Ini adalah pertama kalinya aku memasuki meeting hall dan kesan pertama ku ruangan ini lumayan besar, 200 orang aja sih bisa masuk dalam satu ruangan ini. Tepat pukul 10:00 pagi, CEO Majalah kami memasuki ruang meeting bersama dengan direktur dari masing-masing divisi. Wajah-wajah pembesar itu tidak jelas terlihat karena aku duduk agak di belakang. Sepanjang meeting yang mengetengahkan perkembangan majalah tempat ku berkerja ini aku merasa ada yang familiar dengan suara ini. Sepertinya aku pernah mengenal suara ini, tapi dimana? Dengan susah payah aku berusaha untuk dapat melihat si empunya suara, wajahnya tidak begitu terlihat jelas tapi tebakanku usianya masih di awal 30an dan menurut informasi dari Koko beliau benama Adinugroho dan sudah menjabat sebagai CEO sejak 4 tahun yang lalu. Pak Adi menggantikan posisi ayahnya sejak ayahandanya itu jatuh sakit. Usianya memang masih terbilang muda untuk menduduki jabatan CEO tapi Pak Adi ini, menurut Koko, sudah menunjukkan bahwa dia pantas mendapatkan posisi itu. Dan satu lagi, Pak Adi ini masih lajang jadi menjadi rebutan perhatian wanita-wanita tidak hanya di perusahaan kami tapi hampir semua wanita lajang yang berada di gedung ini pasti pernah mencoba mencuri perhatian beliau tapi menurut Koko, lagi, Pak Adi itu orangnya terlalu “cool” kalau bahasa Indonesianya “dingin” sama wanita. Si Koko malah bilang kalau dia punya kesimpulan bahwa Pak Adi itu gay. Koko itu emang pusat informasi yang lengkap, dalam waktu lima menit aku bisa dapatkan semua informasi tentang Pak Adi. Sambil menunduk aku tersenyum-senyum sendiri, saat aku melihat ke depan sepasang mata dari kejauhan menatap ku tajam dan seketika itu juga senyumku menghilang. “Mampusss!” runtukku. Pak Adi memergoki aku sedang senyum-senyum sendiri di tengah rapat yang dia pimpin. Ahhh… mati lah aku … Seketika aku membetulkan posisi duduk ku lalu sok sibuk mencatat, padahal yang aku tulis hanya makian-makian untuk diriku sendiri. Beruntung meeting segera berakhir kalau tidak sepulang dari kantor aku harus mampir ke tukang pijat untuk membetukan posisi tulang leherku yang selama hampir satu jam tadi menunduk terus, menghindari bertemu pandang dengan Pak Adi. Saat hendak keluar dari ruangan tiba-tiba saja saya berpapasan dengan pak Adinugroho dan bagaikan disiram es, saya hanya bisa mematung ketika wajah seorang Adinugroho menatap tajam ke arah saya.
Dia…dia itu … pembunuh…Bima…dia Bima….
Sebuah tepukan menyadarkan ku “Kamu kenapa, Ta?” “Seperti habis setan, kamu sakit?” tanya Koko.
“Eh… aku enggak apa-apa kok, agak shock aja tadi ngeliat penunggu meeting hall ini.” imajinasiku mencoba menjawab kekhawatiran Koko. “Yang bener Ta…, kamu bisa liat alam supranatural?” tanya Koko dengan tampang yang serius tapi setengah ketakutan sepertinya. “Ahhh… enggak tahu ah … mau balik kerja aja.” jawabku sambil memasuki lift. Tuhan … mengapa dia harus hadir lagi dalam kehidupanku. Kuhempaskan tubuh ini di kursi kerja dan berusaha mengumpulkan semua konsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugas hari ini. Dengan sisa ketenangan yang ku miliki akhirnya hari ini semua tugas bisa selesai dan waktunya pulang dan mengatur langkah apa yang harus ku ambil. Saat hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan divisi editor, mbak Ina memanggilku. “Eta .. bisa ke ruangan saya sebentar?” Dengan enggan aku memasuki ruangan mbak Ina. “Ada apa mbak?” tanyaku. “Sebelum pulang bisa ke ruangannya Pak Adi di lantai atas, beliau mencari kamu.” jelas mbak Ina dengan tatapan penuh tanda tanya “Kamu ada masalah apa denga Pak Adi, Ta?” tanya mbak Ina. Saya yang masih setengah shock mencoba mencari-cari kata-kata untuk menjawab pertanyaan mbak Ina. “Saya ..juga enggak mbak, tahu yang namanya Pak Adi aja baru tadi pagi kan mbak.” jelasku.
“Ya sudah … kamu segera ke ruangannya Pak Adi dan kalau ada apa-apa kamu bisa cari saya di sine.” kata mbak Ina sambil menepuk bahu ku, seolah memberikan tambahan semangat.
Denman lingam gentian aku menyusuri lorong menuju sebuah pintu jati berwarna coklat tua. Tuhan … aku harus bagaimana? Bapak … ibu … aku harus bagaimana?
Sesampainya di muka pintu itu aku menarik nafas panjang sebelum mengetuknya. “Masuk...!” suara dari balik pintu itu mempersilahkan saya untuk masuk. Perlahan ku buka pintu, terlihat Bima duduk dibelakang meja kerjanya. Kelihatannya dia sibuk. “Selamat sore Pak, saya Eta…tadi kata mbak Ina, bapak mencari saya?” tanya saya. Bima tak menjawab, masih berkutat dengan kertas dan laptopnya. Amarah yang aku tahan sejak tadi menyeruak, dengan tangan mengepal aku berbalik hendak meninggalkan ruangan itu. “Saya belum meyuruh kamu keluar…silahkan duduk, sebentar lagi saya selesai.” kata Bima tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Sambil menggerutu dalam hati aku melangkah masuk dan duduk di sofa. Aku duduk dalam diam, mencoba mengatur amarah yang sudah berada di ujung tanduk. Waktu seakan bergerak sangat lambat dan ini membuatku gelisah. Semua kata-kata makian sudah memenuhi otakku. “Eta…ta…!” Setengah terlonjak dari tempatku duduk, aku baru menyadari kalau Bima sudah duduk di hadapanku. Mata elangnya menatapku tajam dan untuk sesaat aku hanya bisa terpaku. “Eh ...oh …maaf Pak….” jawab ku gugup. Kenapa juga sih aku harus gugup, harusnya kan aku marah. “Maaf sudah mengagetkanmu.” kata Bima sambil menyunging senyuman. Arghhh… kenapa juga dia harus tersenyum sih, makiku dalam hati. “Terus terang saya kaget ketika melihat kamu di dalam meeting tadi pagi, saya enggak nyangka kalau kita bisa bertemu lagi di sini.” sambil mantapku Bima berkata “Kamu masih belum bisa memaafkan saya?” tanya Bima. Pertanyaan itu membuat aku tersadar akan peristiwa 1,5 tahun yang lalu. Amarah itu tiba-tiba saja membuat dadaku sesak. Dengan jemari terkepal aku menatap Bima “Iya … aku masih tidak bisa memaafkan…karena kamu … kamu membunuh kedua orang tua ku!” suaraku yang lantang bergetar menahan emosi. Bima masih dengan tenang manatap ku, tak terlihat emosi sama sekali. “Harus bagaimana lagi aku menyakinkan kamu bahwa itu adalah kecelakaan, mungkin ini takdir yang sudah di gariskan oleh Allah.” “Takdir katamu… takdir tidak mungkin sekejam itu merenggut dua orang yang sangat berarti dalam hidup ku.” tegas ku. “Jangan pernah berkata seperti itu karena berarti kamu mengingkari kehendak Allah.” “Ta, cobalah untuk mengikhlaskan kepergian kedua orang tuamu, dengan begitu hidupmu akan jauh lebih tenang.” Mendengar semua perkataan Bima membuat emosiku semakin meledak-ledak. “Aku tak akan pernah bisa tenang jika harus berada dalam satu atap dengan pembunuh seperti KAMU!” kata ku sambil berjalan ke arah pintu. Suara Bima menghentikan langkahku “Amuleta…lalu apa mau mu?” “Kamu mau aku juga mati baru kamu bisa hidup tenang!” “Walau dengan kematian aku sekalipun…tak akan bisa mengembalikan kedua orang tua mu, Ta.” Tanpa menoleh kebelakang aku melangkah pergi.
Bima hanya bisa menatap kepergian Amuleta. Saat menemukan sosok Amuleta diantara sekian banyak karyawannya di meeting tadi pagi, ada sedikit kelegaan tersisip di dalam hati Bima. Dia bisa melihat wanita mungil itu tertawa dengan wajah bahagia berbeda dengan 1,5 tahun yang lalu saat dia pertama kali melihat sosok mungil itu berdiri di makam kedua orang tuanya. Wajah itu kembali di ruang ini dengan segala dendam yang dia simpan untuk ku. Sejak kecelakaan itu terjadi Bima selalu tidur dalam mimpi buruk. Wajah mungil berurai airmata itu selalu menghantuinya setiap malam. Mimpi itu tidak pernah lagi datang setahun belakang ini sejak dia melihat wajah mungil itu mulai dihiasi dengan senyuman. Pertemuan pagi ini memang tak terelakkan lagi dan karena aku kemuraman itu kembali hadir di wajahnya. Bima menghela nafas panjang sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, mencoba berpikir apa yang harus ia dilakukan untuk memecahkan masalah ini.
“APA!” teriak mbak Ina. Pagi ini begitu tiba di kantor aku langsung ke ruangan mbak Ina untuk menyerahkan surat pengunduran diri. “Apa alasan kamu untuk mengundurkan diri?” “Apa ada yang terjadi waktu kamu dipanggil sama Pak Adi kemarin?” berondong mbak Ina begitu surat pengunduran diri aku serahkan. “Maaf mbak, saya tidak bisa menjelaskan karena masalahnya sangat pribadi dan enggak ada hubungannya dengan kantor ini.” jelas ku pada mbak Ina. “Saya terima kasih banyak atas bimbingan mbak selama ini dan maaf kalau pengunduran diri saya ini sedikit mendadak dan jadi merepotkan mbak Ina.” Mbak Ina hanya diam menatapku untuk beberapa saat. “Baiklah kalau begitu, apapun alasan kamu semoga ini jalan yang terbaik buat kamu.” kata mbak Ina sambil menjabat tanganku. Keluar dari ruangan mbak Ina, semua rekan kerjaku berdiri menatapku penuh dengan tanda tanya. Koko bergegas menghampiriku “Ta, loe beneran berhenti kerja?” “Kenapa, Ta?” “Kok mendadak banget sih?” tatapan cemas Koko membuatku sedikit terharu. “Maaf Ko, aku enggak bisa bilang, masalahnya sangat pribadi.” jelasku sambil memindahkan barang-barang pribadi yang akan aku bawa pulang.
Koko hanya diam lalu… “Oke … gue bisa terima tapi kalau loe butuh bantuan jangan sungkan untuk telephone ya…sebagai temen gue siap bantu loe.” Setelah berpamitan dengan teman-teman, aku meninggalkan ruangan yang sudah jadi rumah ke dua ku. Saat aku hendak mengangkat boks kecil yang berisi barang-barang pribadiku, dengan sigap Koko mengambil boks itu dari tangan ku. Sepanjang jalan ke lobi kita berdua hanya diam. Aku enggak pernah nyangka kalau Koko bisa juga diam biasanya dia orang yang paling enggak bisa tutup mulut alias bawel tapi memang dia teman yang berharga buat ku. Koko sudah bisa membuat hidup ku jadi lebih ceria. “Ko, terima kasih ya…kamu udah jadi teman yang baik buatku.” kataku begitu kita sampai di lobi. Koko hanya tersenyum dan menjabat tangan ku erat. Tak lama kemudian taksi orderan ku tiba. Saat aku hendak menutup pintu Koko berkata, “Yang gue omongin tadi, loe bisa dapatkan kapanpun loe butuh.” Aku menganguk dan tersenyum sambil menutup pintu taksi. Tak jauh dari situ sepasang mata menatap dengan penuh keingintahuan.
Brengsek …maki Bima dalam hati. Kenapa dia jadi kepikiran Amuleta terus sepagian ini dan siapa pula laki-laki itu? Perasaan Bima bercampur aduk hingga dia tak bisa konsentrasi pada kerjaan. “Tut…tut…tut..”dering intercom mengagetkan Biman. “Ya …soap?” tanya Bima. Sekertaris yang berada di ujung intercom menjawab pertanyaan Bima. Bima diam sesaat mendengarkan penjelasan dari sekertarisnya. “Oke … suruh masuk.” pinta Bima. Pintu ruangannya terbuka, Ina …kepala bagian editor melangkah masuk. “Silahkan duduk,”kata Bima sambil melangkah keluar menuju sofa tamu. “Maaf kalau saya menggagu nih Pak Adi, tapi saya ingin menanyakan sesuatu pada bapak mengenai Amuleta.” Ina memang rekan kerja yang selalu “to the point” jika bebicara dengan siapapun. “Memang ada apa dengan Amuleta, Na?” tanya Bima dengan tenang. “Tadi pagi dia datang pada saya untuk mengundurkan diri, kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa yang terjadi Pak?” Bima menghela nafas panjang. “Dia enggak bilang alasan kenapa dia minta berhenti kerja?” tanya Bima. “Dia hanya bilang kalau masalahnya terlalu pribadi untuk diutarakan pada saya…Pak… saya tahu bapak yang meminta saya memasukkan nama Amuleta dalam daftar interview waktu itu jadi maaf kalau saat ini saya menerka-nerka ada yang terjadi antara bapak dan Amuleta.” jawab Ina. Untuk beberapa saat Bima terdiam. Akhirnya Bima menceritakan kejadian 1,5 tahun lalu pada Ina. Semuanya … tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Ina hanya bisa diam, sedikit shock mendengar penjelasan Bima. “… jadi begitu, Na ….Na, Ina… kamu enggak apa-apa?” tanya Bima sedikit cemas melihat Ina sedikit pucat. “Eh.. maaf Pak, saya enggak nyangka kalau masalahnya seberat ini.” jawab Ina dengan sedikit gelisah. “Kalau begitu saya permisi dulu Pak…sepertinya saya butuh udara segar untuk menjernihkan pikiran saya.” Ina berdiri hendak meninggalkan ruangan. “Ina!” panggil Bima. “Apa yang saya ceritakan sama kamu tadi tidak boleh keluar dari ruangan ini ya.” kata Bima, tepat nya itu perintah yang harus dipatuhi. “Saya mengerti Pak …, bapak bisa pegang janji saya.” kata Ina dengan setengah tersenyum.
Ina melangkah keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Dulu waktu dia diminta untuk menginterview Amuleta, dia adalah orang yang sangat menentang tapi Pak Adi meminta secara pribadi dengan syarat, kalau Amuleta tidak lulus uji coba selama tiga bulan, Ina bisa mengeluarkan Amuleta dan Pak Adi janji dia tak akan ikut campur lagi dalam masalah perekrutan karyawan. Pak Adi menepati janjinya, selama Amuleta diawah supervisinya beliau tidak pernah sekalipun mencampuri urusan yang berkaitan dengan Amuleta. Sekarang Ina baru tahu mengapa Pak Adi bersikap seperti itu, semua karena rasa bersalah terhadap Amuleta tapi rupanya rasa bersalah dan permintaan maaf itu tak cukup untuk Amuleta memaafkan Pak Adi.
Beberapa hari setelah kejadian itu Ina memanggil Koko ke ruangannya. “Mbak Ina cari saya?” tanya Koko. “Iya Ko, …duduk deh.” “Ko, kamu tahu alamat rumahnya Eta?” tanya Ina. Koko mengerutkan keningnya. “Tahu mbak, kemarin saya dari sana, kenapa tiba-tiba mbak minta alamatnya Eta?” tanya Koko. “Emang enggak boleh orang mau silaturahmi, agama ku sangat menganjurkan manusia itu saling bersilaturahmi.” jelas Ina. Kerutan di wajah Koko semakin dalam. “Sangat mencurigakan.” cetus Koko “Enggak biasanya mbak Ina bersilaturahmi sama ex anak buahnya, waktu Gina keluar 3 bulan yang lalu, mbak Ina enggak sekalipun mau tahu alamat apalagi nomor telephone Gina.” kata Koko dengan pandangan yang menyelidik. “Ah … udah deh … mana alamat rumahnya Eta, enggak usah bawel!” sergah Ina. Sambil mengerutu Koko memberikan alamat yang diminta oleh Ina.
Nomor 203 … nomor 204… nomor 205, nah ini dia…benar nomornya 205. Sebuah rumah mungil berbalut cat warna putih sudah ada dihadapannya. Ini rumah Amuleta. Ina membuka pagar yang tak terkunci lalu menekan bel yang ada di tiang di depan pintu rumah itu. Sekali….dua kali…tiga kali, tidak ada jawaban dari dalam, sepertinya Eta tidak ada dirumah. “Mbak Ina?” Ina langsung membalikkan badan dan Eta telah berdiri depannya sekarang. “Hai…gimana kabar kamu, Ta?” tanya Ina sambil mengulurkan tangan. Eta menjabat tanganya dengan raut yang bingung. “Mbak Ina, ada apa cari saya?” tanya Eta. “Enggak ada apa-apa, cuman mau main aja ketempat kamu.” kata Ina. “Aduh… sampe lupa, masuk dulu mbak…maaf rumahnya berantakan.” Sambil mempersilahkan Ina untuk duduk Eta masuk ke dalam sebentar dan kembali dengan segelas minuman untuk Ina. “Kamu sudah dapat kerjaan belum, Ta?” tanya Ina. “Masih belum mbak, tapi udah mulai ngelamar-ngelamar sih.” jawab Eta. “Kamu enggak mau kembali ke kantor lagi?”tanya Ina. “Berat rasanya kalau harus kembali lagi ke kantor, mbak.” jawab Eta. “Karena ada Pak Adi?” tanya Ina. Eta sangat terkejut dengan pertanyaan Ina. Bagaimana mungkin dia bisa tahu? “Pak Adi sudah cerita semuanya pada saya.” jelas Ina. Eta hanya bisa menunduk dan diam, dia enggak tahu lagi harus bicara apa pada mbak Ina. “Ta, apa benar pintu maaf kamu sudah benar-benar tertutup untuk Pak Adi?” “Tuhan yang Maha Kuasa saja bisa memaafkan umatnya tapi kenapa kamu tidak mau memaafkan kesalahan orang yang sudah memohon padamu untuk dimaafkan.” kata Ina. “Justru karena saya bukan Tuhan mbak … justru karena saya hanya manusia biasa, hati saya tak dibuat dari baja, mbak tahu gimana sakitnya hati saya saat tahu ayah dan ibu meninggal, mbak tahu sakit itu bertambah dalam saat saya tahu kelalaian seseorang telah menghilangkan nyawa kedua orang yang sangat saya cintai itu … karena saya hanya manusia mbak …”jawab Eta dengan emosi. “Kamu egois … kamu pikir hanya kamu yang tersiksa dengan kejadian itu … Pak Adi sama tersiksanya dengan kamu, perlu kamu tahu bahwa Bima Adinugroho itu pantang memohon, tapi hanya pada kamu dia melakukan itu. Karena rasa bersalahnya pada kamu Pak Adi bersedia melakukan apapun agar kamu bisa kembali mendapat kan kebahagian yang telah dia renggut darimu, walaupun dia harus melanggar kode etik yang dia pegang teguh selama ini. Semua itu masih belum cukup buat memberikan maaf buat beliau? Lalu… sampai kapan kamu akan menyiksa dan memenjarakannya dalam rasa bersalah…sampai Kapan, Ta?” tanya Ina. Amuleta hanya bisa menunduk dan meneteskan airmata. Dia tak menyangka kekerasan hatinya telah membuat orang lain menderita. “Eta,” panggil mbak Ina lembut. “Maaf kalau saya agak keras tadi, tapi kamu harus menyadari ini bahwa semua manusia pernah berbuat salah dan semua kesalahan berhak untuk mendapat maaf, dengan memaafkan kamu bisa bebas dari belenggu dendam yang telah membuat hidup kamu jadi melelahkan.” kata Ina sambil memeluk Eta yang menangis tersedu-sedu, melepaskan semua beban yang ditanggungnya sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari ruman Eta, Ina merasakan hatinya sakit. Bima bukan orang baru buat Ina, dia sudah mengenal Bima sejak mereka sama-sama duduk di SMA. Ina sudah lama mengagumi Bima namun dia tak ada keberanian untuk mangungkapkannya. Ina tahu sejak kecelakaan itu Bima jadi berubah total, dia bukan lagi sosok yang penuh semangat menghadapi dunia, dia jadi suka marah-marah atau menghilang dari kantor dengan alasan sakit. Ina sempat mencari tahu lewat sekertarisnya, dari sana dia tahu sedikit kasus kecelakaan itu. Sampai suatu hari Bima muncul di ruangannya memohon agar nama Amuleta di masukkan dalam daftar penerimaan pegawai, dia tahu kalau ini bukan hanya karena rasa bersalah tapi lebih dari itu. Saat ini dia harus siap kehilangan cinta yang dia pendam selama bertahun-tahun. Ina mengambil ponsel dan menghubungi satu nomor. “Bim … kita bisa ketemu?” Ina mendengarkan jawaban Bima. “Oke, aku tunggu ditempat biasa ya.” Ina menaruh ponselnya lalu melaju ke tempat pertemuan.
Pagi yang cerah di hari Minggu ini, Bima tengah berdiri didepan sebuah rumah sederhana, berusaha mencocokkan dengan alamat yang tertera di kertas dalam genggaman tangannya. Beberapa hari yang lalu dia menerima kertas itu dari Ina, awalnya dia sempat berdiskusi panjang dengan Ina mengenai tulisan yang ada di secarik kertas itu tapi setelah beberapa hari berpikir akhirnya Bima memutuskan untuk menemui Amuleta. Dan disinilah dia sekarang, berdiri tepat dimuka rumah Amuleta. Setelah menekan bell, dengan gelisah Bima menatap pintu rumah itu.
Dengan menggerutu Amuleta turun dari tempat tidurnya. “Siapa sih …pagi-pagi udah bangunin orang,… ini hari Minggu …SEBEL!”gerutunya. Dengan masih mengerutu Eta berjalan menuju pintu dan betapa kagetnya saat dia melihat siapa yang berdiri dihadapannya. “Bim…Bima…kok kamu bisa ada disini?” tanya Amuleta tergagap. Bima menatap lurus ke arah Amuleta lalu… “Eta … saya ingin memohon maaf atas kematian kedua orang tua mu, kejadian itu diluar kendali dan tak pernah sedikitpun saya berniat untuk mengambil mereka dari sisi mu. Saya juga minta maaf karena semua itu kamu harus menanggung beban hidup yang begitu berat seorang diri. Saya juga minta maaf jika kamu tersinggung karena saya sudah menggunakan wewenang saya untuk memasukkan kamu menjadi karyawan saya, sekali lagi, tidak ada niat jahat saat saya melakukan itu. Sekarang terserah kamu, apakah kamu menerima maaf saya atau tidak dan mulai hari ini saya tidak akan mengganggu hidup kamu lagi.” jelas Bima. Tanpa menunggu jawaban Amuleta dia berbalik menuju pintu pagar. Langkah Bima berhenti sejenak lalu kembali menatap Amuleta dengan tatapan tajam. “Ada satu hal yang kamu perlu tahu Ta, aku…sudah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali melihat kamu menangis di pusara kedua orang tua kamu.” Bima berbalik dan melangkah pergi. Amuleta masih berdiri mematung mencoba mencerna apa yang baru saja Bima katakan. Bima…terakhir kali…tak mungkin bertemu lagi…mengapa rasa kehilangan tiba-tiba membuat dadanya sesak, bukan rasa kehilangan kedua orang tuanya tapi kemungkinan dia akan kehilangan Bima membuat hatinya nyeri. Kesadaran itu membuatnya berlari mengejar Bima. “B I M A!” teriak Amuleta. Bima berhenti melangkah, membalikkan badan dan menatap Amuleta yang terengah-engah dengan wajah berurai airmata. Entah mengapa setiap kali Bima melihat air mata jatuh di wajah Amuleta hatinya sakit. Amuleta berjalan mendekatkan jarak antara mereka berdua. Dengan terisak Amuleta mencoba berbicara. “Bim…maaf kan aku…selama ini…aku…sudah begitu egois…menyalahkan semua yang telah terjadi pada mu … aku…tidak pernah menyadari…kalau ternyata kamu pun sama menderitanya…dan terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untuk ku …tidak tahu bagaimana caranya aku membalas semua kebaikan kamu.” jelas Amuleta. Bima hanya bisa menatap Amuleta yang tertunduk dan tubuh bergetar karena menahan tangis. Bima melangkah maju lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Cinta ku telah berhasil mengalahkan dendam mu.” bisik Bima. Mereka hanya berpelukan meresapi cinta mereka.
Sunday, November 29, 2009
Cinta dalam Dendam
Posted by
Trinil
at
9:32 AM
0
comments
Wednesday, October 14, 2009
Lama Tak Bertandang

Cukup lama aku tak bertandang ke blog ku ini.
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan mainan baru ku.
Hampir setahun yang lalu terakhir kali aku mencurahkan tulisan-tulisanku.
Saat ini aku sedang menikmati hari-hari tanpa pekerjaan rutin.
Aku baru saja kembali dari perjalanan singkat mengunjungi pulau Karimunjawa.
Pulau ini masuk dalam wilayah kabupaten Jepara. Untuk mencapai ke sana aku dan teman-teman ku harus menempuh perjalanan panjang. Sekitar 12 jam perjalanan darat lalu dilanjutkan dengan 6 jam perjalan laut dengan menumpang kapal Fery. Namun semua itu terbayarkan saat kita sudah tiba di wisma terapung tempat kami menginap. Sebuah pemandangan yang tidak dapat ku lukiskan dengan kata-kata. Semua yang ku lihat dan ku rekam dalam gambar-gambar digital itu membuatku lebih bangga menajadi bagian dari negara ini yang mempunyai lukisan dari Maha Kuasa yang tidak dapat tergantikan lagi. Kita hanya cukup memeliharanya hingga tidak akan hilang dari genggaman.
Posted by
Trinil
at
8:49 AM
2
comments
Tuesday, November 4, 2008
My B-Day in 2008
Today is my B day, almost forgot how old I am or may be I just don't want to remember.
B day is time to make a reflection upon a person's life.
I am blessed living around warm family and close friends.
They fill my life with color
Thank you for giving me so much in life
Thank you for having me in this life
With this heart ... and this life ... I pledge my love to you all
Posted by
Trinil
at
2:38 AM
1 comments
Monday, November 3, 2008
I wish ...
Wishing could be hurting when you put your hope too high
I was there and don't want to feel that hurt again
Never will I want to wish for myself
'Cause it will be nothing but disappointed
Posted by
Trinil
at
4:27 AM
0
comments
Friday, October 17, 2008
Resignation by Big Mama
This translation below is taken from Korean song, Resignation by Big Mama.
I find the lyric is so deep and makes your heart felt the pain from the song
I was happy, the times that I spent with you, even though it must have been hard for you.
It's not that I didn't know how you felt in your heart, I felt it too.
Letting you go, just letting you go, I'm still not quite used to it.
Because this was the only thing you could do, I am hurt by you.
Why didn't you tell me? Or is that you couldn't tell me? Did you not think of me a little?
If you liked me, If you loved me. If you were gonna end it like this, why did you say all those things?
Do I have to hate you or should I blame myself?
If I could go back in time
The only thing I want is to go back to us in the past.
Why didn't you tell me? Or is that you couldn't tell me? Did you not think of me a little?
If you liked me, If you loved me. If you were gonna end it like this, why did you say all those things?
Do I have to hate you or should I blame myself?
If I could go back in time
The only thing I want is to go back to us in the past.
I won't question your choice anymore.
If you want to leave me, leave without looking back.
I wont show any tears because my heart will just get weak
Your figure moving away from me is getting blurrier, I think tears are forming.
I think I will miss you very much, but I have to hold it in so that I can forget you.
I never want to do anything like love ever again
So that my last love belongs to you who turned away from me.
I hope you are happy and that you meet a better girl than me.
Romanji Lyric
Heng bok heh ssuh, nuh wah yeh shi gan deul, ah mah doh, nuh neun him deul uh ggetji
Nuh yeh maheum eul molla ddun gun ahneeyah, nah doh neuk kyuh ssuht ji man
Nul boh neh neun geh, nuhl dduh neh boh neh neun geh, ahjikeun eeksook ha ji gah ahnah.
Geuh ruh keh halsoo upssuh ddun neehgah, won mahng seuh ruh wuh.
Weh mahl ahn het ni? ahnim moht han guhni? jogeumdo neh senggak haji ahn ahtni?
Jowah han dah myun, sarang han dah myun, eeh ruh keh ggeutnahl gguh myunsuh, weh geuh run mahleul het ni?
Nul miwuh heh yah mahn ha neun guh ni ahnimyun neh tahseul heh yah mahn ha neun guh ni?
Shi gan eul dolil soo mahn eetdahmyun
Dahshi yehjyun euhroh, dol ah gahgo shipeun maheum bbooneehyah.
Weh mahl ahn het ni? ahnim moht han guhni? jogeumdo neh senggak haji ahn ahtni?
Jowah han dah myun, sarang han dah myun, eeh ruh keh ggeutnahl gguh myunsuh, weh geuh run mahleul het ni?
Nul miwuh heh yah mahn ha neun guh ni ahnimyun neh tahseul heh yah mahn ha neun guh ni?
Shi gan eul dolil soo mahn eetdahmyun
Dahshi yehjyun euhroh, dol ah gahgo shipeun maheum bbooneehyah.
Geuh reh, duh eeh sang mootji ahneul ggeh
Neh gyut eul dduhnahgo shipdahmyun, dol ah bohji mahlgo dduhnahgah.
Noonmool eun heuleehji ahneulggeh, maheum mahn yakheh jini ggah.
Neh gehsuh muluhjin moseub eeh heuhrit hageh boyuh, noonmool eeh nahnah bwa.
Nul mahneeh geuhriwuh hal gguht gahtah. chamahyah mahn hahgetji, eet chyuh jil soo eet doh rok.
Dahshi, sarang gahteun guhn haji ahneulleh.
Neh mahjimak sarangeun dol ah sun nuhyehgeh joohgo shipuhsuh.
Hengbok ha gil bareh, nah bodah duh joeun yuhjah manna gi reul.
Posted by
Trinil
at
10:23 PM
0
comments
Sunday, October 5, 2008
Laskar Pelangi

Film yang diangkat dari sebuah novel laris karya Andrea Hirata yang menceritakan anak-anak yang punya semangat belajar di tengah segala kekurangan di sebuah pulau bernama Belitong.
Sebelum saya dikenalkan oleh novel ini, saya sudah diperkenalkan dengan pulau Belitong dan tersihir oleh keindahan alamnya yang tak kalah dari pulau dewata Bali. Pasir putih dan batu-batuan yang menghiasi pantai di sepanjang pantai dan pulau-pulau kecil di Belitong membuat siapapun yang ke sana tersihir oleh keindahan alamnya.
Hari ini, Minggu 5 Oktober 2008, saya baru saja kembali dari menonton film Laskar Pelangi bersama bunda tercinta. Jujur saya katakan, saya belum membaca novel Andrea Hirata ini jadi saya tidak akan membandingkan antara film dan novelnya. Sejak pertama kali film ini dimulai sudah di suguhi pemandangan yang indah. Pemain-pemain cilik yang notabene belum punya pengalaman di bidang seni peran, menurut saya berhasil membawakan karakter tokoh-tokoh yang mereka mainkan dengan baik. Film ini di kemas dengan sangat mudah untuk di cerna dengan disisipi kelucuan dari komentar-komentar anak-anak itu. Keharuan muncul ketika Pak Cik, kepala sekolah yang berpulang saat menjalankan tugasnya di sekolah. Puncaknya menurut saya adalah ketika Lintang harus meninggalkan sekolah karena sang Ayah yang meninggal di telan lautan dan ia sebagai anak laki-laki pertama dan satu-satunya di keluarga harus menggantikan peran sang Ayah untuk memikul tanggungjawab mencari nafkah untuk adik-adiknya. Saya tak kuasa membendung airmata ini saat adegan itu terpampang di layar putih di depan saya. Rasa sedih dan kecewa bercampur aduk di dalam hati saya, mengapa anak sepintar Lintang harus meninggalkan bangku sekolah? Namun mungkin memang sudah begitu jalan hidup yang harus mereka jalani. Saya ingat kata-kata seseorang (maaf saya lupa siapa yang pernah mengatakan kata-kata ini). Semua kejadian yang kita alami pasti ada hikmahnya, tinggal bagaimana manusia menyikapi hikmah itu, apakah sebagai hukuman atau pemacu?
Film Laskar Pelangi ini buat saya adalah salah satu film Indonesia terbaik di tahun 2008.
Posted by
Trinil
at
6:26 AM
0
comments
Satu Hari Saat Lebaran
Setelah melewati hari pertama lebaran yang menyibukkan, malam itu saya online dan browsing si Soompi mencari berita terbaru dari group musik kesayangan saya, Dong Bang Shin KI (DBSK). Disana saya menemukan pemandangan yang menyentuh hati. DBSK tampil di sebuah acara tv, SBS Chocolate dan mereka tampil bersama tamu kecil istimewa, Ye Eun. Ye Eun adalah anak perembuan berusia 6 tahun yang tidak dikarunia penglihatan. Malaikat kecil dikabarkan sebagai pemain piano yang jenius. Ia sudah bermain piano sejak usia 3 tahun, ketrampilannya bukan didapat dari pendidikan formal tapi otodidak. Hanya dengan mendengarkan sebuah lagu beberapa kali, Ye Eun bisa memainkan lagu tersebut dengan piano lewat sentuhan tangan-tangan mungilnya. Di SBS Chocolate Ye Eun mengiringi dan bernyanyi bersama dengan Dong Bang Shin Ki, mereka membawakan lagu “You Rise Me Up”. Ye Eun sempat lupa lirik lagu itu namun dengan sangat sabar para personil DBSK menuntun Ye Eun menyayikan lirik lagu tersebut. Suara mereka seperti malaikat, merduuuu sekali, amat sangat menyentuh hati. Tapi yang membuat saya semakin tersentuh adalah saat lagu telah selesai dibawakan Ye Eun langsung meminta Yunho untuk menggendongnya dan si ganteng Yunho dengan luwes menggendong seperti ia menggendong anaknya sendiri dan Ye Eun merasa nyaman dalam pelukan the leader Yunho. Pemandangan seperti ini yang membuat saya menjadi luluh. Saya punya “soft spot” jika melihat pria menggendong anak kecil, seperti melihat pemandangan yang menyejukkan. Well, anyway … I love a man who loves the kids.
Posted by
Trinil
at
6:10 AM
1 comments